Langsung ke konten utama

Astronot Asal Indonesia


 Pada tahun 1987, Indonesia berhasil mengukir sejarah di mata dunia. Astronot wanita pertama Indonesia bahkan Asia, Pratiwi Sudarmono direncanakan akan terbang menjelajah angkasa untuk misi tertentu. 

Akan tetapi, hal ini tidak berjalan lancar. Insiden Challenger menjadi penyebab mengapa perjalanan Pratiwi tidak sesuai rencana. 

Berikut profil dan kisah lengkapnya.


Pratiwi Sudarmono, Astronot Perempuan Pertama Indonesia

Arab Saudi baru memiliki astronot perempuan pertama tahun ini. 

Kalah jauh dari Indonesia yang mempunyai antariksawan pertama wanita, Pratiwi Pudjilestari Sudarmono sejak 1987. 

Tidak hanya di Indonesia kala itu, Pratiwi juga merupakan astronot wanita pertama di Asia.

Nama Pratiwi sangat popular di era 1980 karena terpilih menjadi antariksawan Indonesia, untuk mengembangkan proyek DNA dan eksperimen ilmiah lainnya. 

Indonesia sangat bangga atas prestasi Pratiwi. Tentu saja ini bukan tanpa alasan. 


Sebab, para astronot saat itu sebagian besar didominasi oleh ilmuwan Amerika Serikat dan Uni Soviet.

Pratiwi dijadwalkan terbang ke luar angkasa membawa satelit Palapa B3 dari pusat peluncuran roket di Florida, AS, pada 1986. 

Sebelum diluncurkan, ia menjalani pemusatan latihan secara ketat dan padat di Amerika Serikat.

Namun, insiden Challenger yang terjadi pada 28 Januari 1986 membuat semua misi NASA ke luar angkasa ditangguhkan. 

Pesawat ulang-alik Challenger milik AS dengan misi STS-51-L, meledak di udara hanya 73 detik setelah diluncurkan pada ketinggian 15 atau 16 kilometer. 

Tujuh astronot meninggal dunia. Padahal peluncuran Challenger itu, disiarkan secara langsung melalui saluran televisi di seluruh dunia.

Pasca musibah itu, keberangkatan ahli mikrobiologi Universitas Indonesia (UI) ini tak kunjung terlaksana.

Profil Pratiwi Sudarmono

Pratiwi lahir di Bandung 31 Juli 1952 di Bandung. Sejak kecil Pratiwi sudah berkeinginan untuk bergabung dengan Index Space Experiment (INSPEX).

Selepas dari bangku SMA, Pratiwi meneruskan pendidikan kedokteran pada tahun 1977 dan berhasil mendapat gelar Master dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia 

Kemudian di tahun 1984, Pratiwi memperoleh Ph.D dari Universitas Osaka, Jepang lewat penelitian bidang Biologi Molekuler

Tahun 1985, ia berangkat ke Johnson Space Center, AS menjalani dan mendapatkan Sertifikat Astronot Spesialis Muatan.

Di tahun yang sama, tepatnya pada bulan Oktober, Pratiwi berhasil terpilih dari 200 lebih pelamar yang ikut mendaftar untuk mewakili Indonesia dalam misi penerbangan Palapa-B-3 STS-61H National Aeronautics and Space Administration (NASA) sebagai Spesialis Muatan.

Dalam misi penerbangan ini, Pratiwi hendak melakukan penelitian terkait daya tahan tubuh manusia dan kemungkinan untuk hidup berkoloni di luar angkasa.

Meski gagal berangkat, Pratiwi tetap mengukirkan prestasi. Ia menjadi peneliti di NASA dari tahun 1985 sampai tahun 1987.

Namun, pada tahun 1997, krisis moneter melanda Indonesia dan membuat kesempatan Pratiwi untuk terbang ke luar angkasa semakin kandas karena tidak ada lagi dana untuk membiayai program latihan astronot Indonesia.

Pratiwi kemudian mengabdikan dirinya dengan melakukan berbagai penelitian sekaligus menjadi staf pengajar di kampus di Universitas Indonesia.

Pada tahun 2008, Pratiwi diangkat sebagai Guru Besar atau Profesor Kehormatan Ilmu Mikrobiologi Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia dengan minat utama yaitu mikrobiologi klinis dan mengembangkan penelitian di bidang mikrobiologi klinis.

Belum lama ini tepatnya pada tahun 2019, Pratiwi mendapat penghargaan recognition for Inspiring Women in STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics).

.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

NASA

NASA didirikan pada tahun 1958, menggantikan National Advisory Comitte for Aeronautics (NACA). Badan baru ini memiliki orientasi sipil yang berbeda, mendorong penerapan damai di ilmu ruang angkasa.Sejak didirikan, sebagian besar penjelajah antariksa AS dipimpin oleh NASA, termasuk misi pendaratan di bulan  (Apollo), stasiun luar angkasa  Skylab , dan kemudian  Pesawat Ulang Alik . N ASA mendukung  Stasiun Luar Angkasa Internasiona l   dan mengawasi pengembangan  wahana antariksa Orion ,  Space Launch System , dan Commercial Crew. Badan tersebut juga bertanggung jawab atas Launch Services Program, yang memberikan pengawasan atas operasi peluncuran dan manajemen hitung mundur untuk peluncuran NASA tanpa awak. Ilmu pengetahuan NASA difokuskan pada pemahaman yang lebih baik tentang  Bumi  melalui  Earth Observing System ; memajukan  heliofisika  melalui upaya Program Penelitian Heliofisika milik Scienc...

Taktik Perang Phalanx

Phalanx, Formasi Militer Makedonia Kuno yang Tak Terkalahkan Nationalgeographic.co.id -  Dari semua formasi dan taktik dalam  sejarah  militer, hanya sedikit yang bisa menandingi kekuatan dan keagungan barisan  Makedonia . Salah satu aspek utama dari kekuatan militer Makedonia adalah pengembangan oleh Filipus II, yang kemudian diteruskan oleh  Alexander Agung , yaitu formasi phalanx. Meskipun kekuasaan Makedonia akhirnya ditaklukkan oleh legiun Romawi, warisan kehebatan militer mereka tetap melekat dan dihormati dalam sejarah. Formasi phalanx dan metode perang yang dikembangkan oleh Makedonia terus dianggap sebagai salah satu yang terkuat. “ … pasukan Makedonia tidak pernah kehilangan reputasinya yang luar biasa dan tetap menjadi salah satu formasi militer paling ikonis sepanjang masa,” tulis Ristan Hughes, pada laman History Hit . Asal-usul formasi Raja Makedonia Philip II menginginkan federasi Yunani yang kuat untuk melawan Persia. Setelah kematiannya, dia dig...

Game Subnautica : Below Zero

 Pada 2018 lalu, developer asal San Fransisco, Unknown Worlds Entertainment, telah sukses merilis sebuah game petualangan bawah laut berjudul Subnautica . Nah, tahun ini, tepatnya 14 Mei 2021, mereka kembali merilis kelanjutan dari game pertamanya dan diberi judul Subnautica: Below Zero . Game ini bisa dimainkan secara multiplatform, mulai dari PC, PS4 , PS5 , Xbox One, Xbox Series X, macOS, hingga Nintendo Switch. Jika kita melihat kehebohan pada seri pertamanya, tak heran jika banyak gamer punya ekspektasi sangat tinggi terhadap judul kedua ini. Ya, pada 2018 lalu, Subnautica berhasil menjadi salah satu game terbaik dengan review yang selalu positif. Kondisi ini sebetulnya bisa menjadi bumerang bagi pengembang jika mereka terpeleset di seri keduanya. Namun, mereka bisa membuktikan bahwa Subnautica: Below Zero bisa tampil dengan sama bagusnya. Penasaran dengan ulasan dari game ini? Yuk, simak review Subnautica: Below Zero berikut ini. Siapa tahu game yang disutradarai oleh Ch...